h1

Pemborosan Besar di Hari Kebangkitan

Negri ini memang sombong. Bagaimana tidak, dikala BBM sedang dipermasalahkan karena anggaran negara ‘tekor’, dikala rakyat miskin semakin membanyak, dikala rakyat sudah ‘mulai’ tewas karena kelaparan, dan dikala harga-harga semakin naik, di Gelora Bung Karno pada tanggal 20 Mei kemarin, diberlangsungkan pesta pora besar yang sangat keterlaluan menghabiskan banyak biaya dan tenaga.

Tidak hanya itu ratusan ribu orang ikut serta untuk memeriahkan acara peringatan hari ‘100 Tahun Kebangkitan Nasional’ tersebut. Diantaranya dari kalangan mahasiswa, TNI, Polri, musisi, atlit, artis, dan lain sebagainya. Pemerintah mengebu-gebu mewajibkan negri ini harus hemat energi, apalagi diketahui BBM semakin mahal di pasaran internasional. Namun, pemerintah sendiri dengan gampangnya menghambur-hamburkan anggaran Negara di suatu pesta pora yang hanya berlangsung beberapa jam di satu malam.

Menurut perkiraan saya dana yang dikeluarkan untuk acara itu bisa mencapai milyaran rupiah. Bayangkan saja apabila setiap orang yang berpartisipasi di beri makan-minum serta honor di acara tersebut sebesar Rp.20.000. dan orang yang berpartisipasi diacara tersebut mencapai lebih dari 50.000 orang. Berarti biaya yang dikeluarkan sudah sebesar 500 juta rupiah. Itu baru honor biasa. Belum lagi biaya kostum, perlengkapan, bendera, dan kembang api yang berjumlah ribuan buah. Dan belum lagi biaya penari-penari tradisional yang didatangkan dari berbagai provinsi di Indonesia. Dengan perkiraan hitungan setiap satu orang mendapatkan tempat penginapan,tiket transport, makan, dan pakaian. Apalagi jumlahnya mencapai ribuan!

Biaya artis yang ikut tampil dalam acara tersebut juga pasti tidak sedikit. Bahkan bisa mencapai ratusan juta. Ditambah
biaya lain-lain, yang pastinya tidak akan semurah biaya pembuatan seminar kampungan biasa. Sudah pasti ini pemborosan besar-besaran bukan?

Seorang kawan yang ikut menonton acara tersebut melalui televisi berguyon; “gimana ya? ketika para polisi dan TNI yang jumlahnya ribuan orang itu sedang asik ikut serta atau berjaga di Gelora Bung Karno, sedangkan pencuri-pencuri sedang berkeliaran di rumah-rumah warga wilayah DKI malam itu, siapa yang bakal menangkap? Seandainya tiba-tiba ada terror bom di suatu bandara, polisi atau TNI yang mana yang bakal datang?” .Yang pasti pak hansip dan warga siskamling yang setia berjaga siap mengamankan. Jawab saya singkat saat itu.

Bolehlah kalau sekedar ingin memperingati. Tapi, tetap harus di ingat bagaimana sebenarnya keadaan sekarang, dan juga ingat situasi sekarang. Saya hanya tidak tega saja seandainya dimalam pak SBY-JK sedang tersenyum bangga melihat pertunjukan itu, ada warga yang mengangis menahan perih karena kelaparan.

Ada balita yang menjerit karena ibunya tidak mampu membelikan susu yang terlewat mahal. Dan bahkan, ada warga yang mencoba ‘lagi’ bunuh diri karena frustasi menjalani hidup yang semakin susah di negri ini. Bukannya tidak etis berpesta diatas penderitaan rakyat yang berbagai macam dan masih begitu banyak ini?

Seharusnya bangsa ini punya rasa malu yang besar. Punya hari ‘kebangkitan’ tapi tidak juga bangkit-bangkit. Apalagi sudah seratus tahun lamannya hari tersebut diperingati. Betapa tidak? Indonesia termasuk dalam daftar 60 negara gagal (failed state) tahun 2007 yang dibuat Majalah Foreign Policy bersama badan think-tank Amerika, the Fund for Peace. Indonesia yang di tahun 1990-an digolongkan sebagai salah satu calon macan Asia bersama Singapore, Malaysia, dan Korea Selatan, sekarang sejajar dengan Negara gagal Somalia, Ethiopia, Irak ,Afganistan dan Haiti.

Tidak hanya itu, negri yang seharusnya bangkit tiap tahun bersama diperingati hari Kebangkitan Nasional tiap tahunnya ini, menduduki peringkat 107 dari 177 negara dalam indeks pembangunan manusia (Human Development Index) yang dibuat badan PBB, UNDP. Dan menunjukan betapa rendahnya kualitas SDM di negri ini, akibat sulitnya rakyat memperoleh pendidikan yang kini kian mahal.

Seharusnya melihat realitas fakta yang mengerikan tersebut, negri ini lebih giat lagi berusaha melakukan kebangkitan
yang sebenarnya. Bukan hanya merayakannya dengan dana yang luarbiasa banyaknya. Coba seandainya biaya triliyunan tersebut digunakan untuk membayar utang Negara yang tidak kunjung lunas ini. Atau digunakan untuk pengentasan kemiskinan yang didera rakyat banyak sekarang. Pasti itu akan lebih membuat mereka (rakyat miskin) tersenyum, dari pada manyun melihat orang-orang elit berpesta pora di Gelora pada malam yang singkat tanpa melibatkan mereka.

Saya hanya prihatin saja dengan kondisi yang demikian. Seolah bangsa ini tidak ada beban yang layak dirasakan melihat kondisi negri yang semakin terpuruk. Apalagi menyambut kenaikan BBM yang menandakan negara ini tidak bisa memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya. Membuat acara besar yang mahal boleh saja dilakukan. Namun yang efektif dan efisien dan rakyat semua sudah sejahtera. Dana yang begitu besar lebih baik digunakan untuk pembangunan yang berdampak untuk jangka waktu yang panjang, dari pada mubazir terbuang percuma untuk acara singkat yang hanya dua jam.

Kalau mau bangkit dari krisis sekarang ini, mau tidak mau yang harus dilakukan adalah berhemat dahulu. Bukankah benar demikian bagi orang yang berfikir kritis dan menginginkan kebangkitan hakiki?

Rabu,21Mei 2008

M.Akbar Khomeini Laksana

PPZ (People Protest Zine) Banjarmasin

pemborosan-besar

Tinggalkan sebuah Komentar