
Negara Gagal Bernama Indonesia..
Negara Gagal Bernama Indonesia..
Sangat memilukan dan memalukan, Indonesia masuk dalam indeks 60 negara gagal tahun 2007 (failed state index 2007). Indeks tersebut dibuat Majalah Foreign Policy yang berwibawa, bekerjasama dengan lembaga the Fund for Peace, Amerika. Banyak ukuran untuk membuat indeks tersebut. Namun, secara umum disebutkan antara lain; pemerintah pusat sangat lemah dan tidak efektif, pelayanan umum jelek, korupsi dan kriminalitas menyebar, dan ekonomi merosot tajam. Disebutkan pula, Negara paling gagal adalah Sudan, Irak, Somalia, dan Zimbawe.
Yang anehnya dari indeks tersebut, mengapa Indonesia juga termasuk di dalamnya, dan satu jajaran dengan negri-negri tersebut? Bersama dengan sejumlah Negara Afrika, Asia, Amerika Latin, semacam Timor-Timur, Myanmar, Konggo, Haiti, Ethiopia, dan Uganda. Padahal Indonesia jelas berbeda dengan negri-negri tersebut yang memang miskin Sumber Daya Alam. Indonesia sangat berlimpah ruah dalam hal Sumber Daya Alam. Entah itu kekayaan hutannya, kekayaan lautnya, maupun berlimpahnya tambang-tambang minyak dan Gas alam.
Bagai ayam yang mati dilumbung padi. Indonesia pun terpuruk disaat sekelilingnya penuh dengan kekayaan alam yang leluasa kapanpun bisa dimanfaatkan. Sayangnya, pemerintah lebih senang memberikan kekayaan tersebut dengan para ‘kalkun’ dari negri lain. Dan dengan ikhlasnya bersedia hanya mendapat bagian keuntungan selalu paling kecil dari proyek peng-embatan harta rakyat tersebut.
Yang terlihat jelas sekarang, berita radio, TV, dan Koran tak pernah henti di hiasi dengan cerita anak-anak kurang gizi dan kelaparan. Nasi aking menjadi salah satu menu rakyat, dan sembako menjadi barang mewah yang sulit didapat. Semua itu terjadi hampir merata di seluruh Indonesia. Malah, di Makassar dan beberapa kota lain, dilaporkan dengan adanya orang meninggal karena sudah beberapa hari tidak tersentuh makanan.
Belum lagi, menurut pernyataan badan kesehatan PBB, WHO, yang menyatakan Indonesia sebagai Negara dengan korban flu burung terbanyak didunia. Penyakit HIV-Aids berkembang tak terkendali sampai kedaerah-daerah terpencil. Serangan diare dimana-mana. Berbagai penyakit aneh seperti lumpuh layu bermunculan. Juga, pengangguran yang melonjak.
Artinya, kemiskinan kini merebak. Pantas saja Indonesia dikategorikan sebagai Negara gagal. PBB memperhitungkan, hampir separuh penduduk Indonesia hidup dibawah dua dollar perhari. Padahal harga pangan sedang meloncat tak terkendali. Apakah mampu orang bisa hidup dibawah Rp.18.000 perhari?
Memang bisa dikatakan wajar apabila hidup miskin di Negara yang miskin sumber daya alam. Namun, sangatlah tidak wajar dan memang sangat aneh, hidup miskin di Indonesia yang sangat kaya sumber daya alam.
Ditengah kemiskinan dan kelaparan itu, ternyata ada pula berita bagus: orang kaya Indonesia justru bertambah kaya. Seperti di sampaikan majalah bisnis Forbes, 13 desember 2007, kekayaan para konglomerat Indonesia melompat dua kali lipat. Majalah tersebut juga menyebutkan, kini Indonesia memiliki 40 konglomerat dengan kekayaan minimal 120 juta dollar atau lebih Rp.1 triliyun. Dan yang paling kaya adalah Menko Kesra Abu Rizal Bakrie.
Rakyat tambah miskin mengapa konglomerat tambah kaya? Tak lain karena sistem ekonomi liberal yang kini diterapkanlah salah satu akar masalahnya. Dimanapun, di dunia ini termasuk Amerika Serikat sistem liberal menjadikan orang kaya yang segelintir bertambah kaya.
Contoh konkretnya seperti ketika krisis ekonomi melanda Indonesia di tahun 1998 silam. Para konglomerat diselamatkan pemerintah atas perintah Bank Dunia dan IMF. Bank Indonesia mengucurkan dana BLBI lebih Rp.600 triliyun. Umumnya dana ini di keplang oleh para konglomerat. Sementara itu penguaha kecil dan menengah yang bangkrut oleh krisis tak sedikitpun dipedulikan oleh pemerintah.
Dan ironisnya, dari bantuan dana BLBI yang begitu besar tersebut, pemerintah hanya mendapatkan pengembalian dari para obligor berupa asset yang jauh lebih kecil dari pada dana yang dipinjamkan. Dan kasus BLBI yang tengah diajukan kini tidak dilanjutkan lagi dengan alasan tidak ada bukti-bukti kecurangan oleh para oknum BLBI tersebut. Itulah salah satunya mengapa Negara menderita kerugian yang sangat besar.
Sedih dan pilu ternyata belum terhentikan sampai disitu saja. Beberapa waktu lalu hal yang memalukan kembali tertayangkan. Tertangkapnya Jaksa Urip Tri Gunawan dalam kasus suap, tertangkapnya seorang Kapolsek yang sedang mengkonsumsi sabu di kantornya, terpergoknya seorang Al Amin, anggota DPR yang diduga menerima suap pengalihan fungsi hutan lindung di Bintan, bahkan sampai seorang Haji yang mengkorupsi dana bantuan panti asuhan dan mesjid.
Padahal tokoh-tokoh tersebut adalah orang-orang yang berpendidikan dan terpilihkan. Jaksa Urip, sudah terkenal dengan statusnya sebagai jaksa terbaik di Indonesia. Kapolsek adalah polisi yang berjabatan tinggi dan terpilih sebagai pemimpin banyak bawahannya. Al Amin Nur Nasution juga teranggap sebagai orang baik dan berkomitmen tinggi pada partai yang berlambang Ka’bah itu. Dan juga, Sang Haji tadi, juga seorang yang seharusnya memiliki keimanan tinggi untuk tidak melakukan kegiatan korupsi.
Kalau orang-orang yang dianggap baik saja melakukan penyimpangan, bagaimana dengan orang-orang yang tidak dianggap baik? Kalau seorang penegak hukum, seperti Jaksa dan Polisi saja melakukan penyimpangan hukum, bagaimana dengan masyarakat biasa? Dilihat dari kualitas SDMnya saja, Indonesia sudah masuk dalam kategori yang buruk. Pantaslah SDA di negri ini tidak teruruh dengan rapi, dan memberikan kesejahteraan bagi rakyat banyak. Kalau sudah begini, masalahnya makin semerawut.
Tulisan ini bukan ingin menjelek-jelekan negri Indonesia tercinta. Namun, hanya sekedar membeberkan realitas fakta. Dimana Negara yang seharusnya makmur sentosa, tetapi rakyat malah melarat menderita. Mau tidak mau, yang dilakukan sekarang adalah melakukan perubahan yang menuju kebangkitan. Segala yang terpuruk mesti tergantikan. Tentunya dengan segala sistem yang lebih terpercaya dan terbuktikan. Sistem ekonomi liberal terbukti gagal, belum sama sekalikah kita menyesal?
M.Akbar Khomeini
Sekjen PPZ (People Protest Zine) Indonesia









ya… sekali lagi indonesia memang malu-maluin…
ekonomi kapitalis hancur…
saatnya syariat islam beraksi!