
Indonesia : Penghasil BBM yang Kesulitan BBM
Apabila kita bertanya kepada seorang anak sekolah dasar tentang pelajaran aritmatika mana yang paling gampang, menambah, mengurangi, mengkali, atau membagi? Pasti anak sekolah dasar tersebut akan menjawab langsung; menambah!. Tak diragukan lagi, ‘menambah’ memang paling mudah dilakukan dan tidak perlu terlalu menguras otak dibandingkan mengkali, mengurang, ataupun membagi.
Ternyata, hal tersebut terbawa pula sampai seseorang itu dewasa. Tidak hanya anak SD yang suka menambah, pemerintah juga paling suka ‘menambah’ dalam segala kebijakannya. Terlihat kebijakan yang baru ini, pemerintah lebih suka menambah/menaikan harga BBM ketimbang menguranginya. sedangkan DPR lebih suka menambah tunjangan mereka di banding membaginya kepada rakyat. Untung saja sangking lebih suka menambah, pemerintah tidak sampai ‘mengkali’ kenaikan harga BBM.
Ketika mengetahui bahwa harga BBM akan kembali naik, muncul berbagai respon reaksi masyarakat, khususnya mahasiswa. Berapa hari kemarin bahkan para mahasiswa langganan menghiasi berbagai koran-koran diIndonesia atas berbagai demo mereka yang terkesan anarkis. Itu mungkin mereka lakukan karena tidak tahan lagi, atau ada ketakutan yang besar apabila BBM naik maka semua harga pasti akan ikut naik. Maka kehidupan yang dijalani dalam memenuhi kebutuhan hidup juga akan semakin sulit.
Ketika saya berdiskusi mengenai kenaikan BBM ini, seorang kawan pernah berujar ; “kalau hanya berfikir ‘menaikan harga BBM karena harga di pasaran internasional naik’ maka tukang becakpun bisa berfikir seperti itu. Seharusnya mereka ratusan orang yang berkumpul dipemerintahan tidak berfikir sesederhana itu. Mereka yang berpendidikan tinggi dan diamanahi rakyat untuk mengatur tidak seharusnya berfikir sesingkat itu. Orang yang cerdas adalah orang yang bisa mencari jalan untuk menyelesaikan masalah. Bukan mengikuti alur masalah.”
Sesaat di renungkan, negri ini memang aneh. Seharusnya sebuah negri penghasil minyak akan senang apabila harga minyak dipasaran internasional naik. Seperti petani kedelai yang senang ketika harga kedelai naik. Tetapi lain kejadian di Indonesia. Negri ini malahan panik dan pusing ketika harga minyak dipasaran dunia naik. Negri yang tergabung dalam OPEC ini malahan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan minyak rakyatnya. Padahal, Amerika terpenuhi kebutuhan minyaknya berkat minyak yang diambil dari Indonesia.
Ironis, satu hal lagi yang selalu terfikir dibenak saya. Mengapa Pertamina yang notabene punya pemerintah ikut-ikutan mengikuti harga pasaran dunia? Padahal minyak yang dijual Pertamina juga untuk rakyat Indonesia juga bukan? Kalau jawabannya adalah untuk menghindari penyelundupan minyak ke luarnegri, kenapa tidak lebih baik pemerintah berfikir agar tidak ada penyelundupan saja. Dari pada berfikir menaikan harga minyaknya. Lagi pula membawa minyak keluar negri pastinya memakai kapal tanker yang besar. Kemungkinannya akan kecil bisa lolos dari Polisi air atau TNI AL yang berjaga di perbatasan.
Kwik Kian Gie, seorang Pakar Ekonomi pernah menjelaskan bahwa subsidi yang dikatakan pemerintah menjadikan anggaran negara buntung itu tidak sepenuhnya benar. Dia berujar “yang dilakukan pemerintah adalah menghitung harga minyak dalam tanah. Jadi kerugian pemerintah itu diatas kertas, Riilnya tidak begitu.”
Dari hitungan Kwik, dengan biaya pengolahan BBM 10 dolar AS per barel pada kurs Rp.10 ribu per dolar AS, berarti biaya perliternya hanya Rp.630. itu artinya, dengan harga penjualan ke rakyat seharga Rp.4.500 per liter pemerintah masih untung Rp.3.870 per liter. Dan dari hitungan itu sebenarnya pemerintah masih untung Rp.35 trilitun. Jadi dimana yang dikatakan pemerintah anggaran Negara menjadi buntung?!
Tidakkah ada pilihan cara alternatif lain selain menaikan harga BBM?
Seorang pengusaha minyak, Setiawan Djody mengatakan bahwa banyak cara lain agar BBM tidak perlu naik. Misalnya dengan menaikan harga penjualan gas keluar negri. Selama ini penjualan gas Indonesia sangat murah. Contohnya, seperti penjualan gas ke China hanya menggunakan harga 5 dolar AS per MMBTU. Padahal harga pasaran gas didunia saat ini mencapai 11 dolar AS per MMBTU. Selisih itu cukup untuk menutupi subsidi BBM.
Itu baru salah satu cara penyelesaian. Sedangkan kemungkinan banyak lagi cara-cara yang lain yang bisa digunakan. Jutaan rakyat dinegri ini pasti ada yang memiliki otak cemerlang yang tidak lagi diragukan. Permasalahannya, apakah pemerintah mau melirik sejenak cara-cara yang di lontarkan terebut dari pada bertindak gegabah..
Semua masalah pasti ada penyelesaiannya. Tergantung kita mau berusaha keras atau pasrah menyerah. Coba sesekali kita tanyakan kepada rakyat jelata, mereka pasti lebih memilih BBM turun dari pada menerima BLT yang rawan penyimpangan. Tidak perlu repot-repot mengurus BLT (Bantuan Langsung Tunai) sedangkan rakyat miskin dinegri ini saja sudah sangat banyak sekali. Mana mungkin masyarakat yang sedimikian banyak itu dilihat satu persatu dan diberi uang? Lagipula untuk apa rakyat dibuat susah dahulu kemudian di kasih duit? Bukankah itu malah mempersulit..
M.Akbar Khomeini L.
redaksi PPZ (People Protest Zine)
Email : d_agentofchange@yahoo.co.id HP : 081953204880









iya…
indonesia malu-maluin aja…